Pura Luhur Besikalung bertempat di sisi selatan lereng Gunung Batukaru.Tepatnya berada pada
wilayah Desa Adat Utu, Desa Babahan, Kecamatan Penebel, Kabupaten Tabanan.
Pelaksanaan pujawalinya ialah pada Budha Kliwon Sinta atau bertepatan dengan
hari raya Pagerwesi. Dan akan nyejer
selama tiga hari. Nama Pura Besikalung dipekirakan berhubungan erat dengan hari
raya Pagerwesi. Berasal dari kata “Besi” dan “Kalung”. Yang mana bermakna Besi
atau suatu pengikat yang mengelilingi. Disini sama seperti Pagerwesi arti
Pagerwesi. Yang mana seluruhnya itu memiliki makna suatu hal yang membatasi
perbuatan seseorang dan akan mengekang hal yang tidak baik.
Berdasarkan Prasasti Babahan I yang ditemukan di Pura
Puseh Jambelangu mengisahkan perjalanan Raja Sri Ugracena ke Bali Utara dan
sempat singgah pada pertapaan (pesraman) Rsi Pita Maha di Petung Bang Hyang
Sidhi, beliau juga disebut dengan Bhiku Dharmeswara. Raja Sri Ugracena
memberikan titah dan kewenangan pada Rsi Pita Maha untuk menyelesaikan upacara
keagamaan bagi mereka yang meninggal salah pati, angulah pati. Hal inilah yang
merupakan keistimewaan dan kekhususan Prasasti Babahan I yang dapat dikatakan sebagai
satu-satunya Prasasti Bali yang memuat upacara Salah pati, Angulah Pati. Bang
Hyang Sidhi yang disebut didalam prasasti Babahan I kini disebut Bangkyang
Sidem terletak persis di sebelah timur Pura Luhur Besikalung hanya dipisahkan
oleh sungai (Yeh Ho). Di Pura subak Bangkyang Sidem sebagai situs kepurbakalaan
terdapat 2 unit pura yang kecil diperkirakan sebagai tempat tinggal Sang Rsi
dan yang satunya lagi terletak di bagian selatan agak di bawah diperkirakan
sebagai tempat pemujaan harian beliau. Jika hipotesa ini benar maka ada
kemungkinan Pura Luhur Besi kalung didirikan oleh Rsi Pita Maha pada masa
pemerintahan Raja Ugracena yang bertahta atau memerintah pada caka 837 -864
atau sekitar 915-942 M. Mengingat prasasti Babahan I bertahun Caka 839 (917 M).
Refrensi:
Isi ;
artikelbali.blogspot.com
Gambar ;
flickriver.com
tugasagamahindupgsd2.blogspot.com






Daun lontar
yang dibawa Dewi Saraswati merupakan lambang ilmu pengetahuan.
Genitri
adalah lambang bahwa ilmu pengetahuan itu tiada habis-habisnya. Genitri juga
lambang atau alat untuk melakukan japa. Ini pula berarti, menuntut ilmu
pengetahuan merupakan upaya manusia untuk mendekatkan diri pada Tuhan. Ini
berarti pula, ilmu pengetahuan yang mengajarkan menjauhi Tuhan adalah ilmu yang
sesat.
Wina yaitu
sejenis alat musik, yang di Bali disebut rebab. Suaranya amat merdu dan
melankolis. Ini melambangkan bahwa ilmu pengetahuan itu mengandung keindahan
atau estetika yang amat tinggi.
Damaru
(kendang kecil)
Angsa adalah
jenis binatang unggas yang memiliki sifat-sifat yang baik yaitu tidak suka
berkelahi dan suka hidup harmonis. Angsa juga memiliki kemampuan memilih
makanan. Meskipun makanan itu bercampur dengan air kotor tetapi yang masuk ke
perutnya adalah hanya makanan yang baik saja.
Merak
merupakan lambang suatu kewibawaan.
Bunga Padma
atau bunga teratai adalah bunga yang melambangkan alam semesta dengan delapan
penjuru mata anginnya (asta dala) sebagai stana Tuhan. Burung merak adalah
lambang kewibawaan. Orang yang mampu menguasai ilmu pengetahuan adalah orang
yang akan mendapatkan kewibawaan.