Senin, 26 Oktober 2015

PENGERTIAN TRADISI DAN BUDAYA

Secara singkat dan sederhana, pengertian tradisi dan budaya dapat dipaparkan sebagai berikut;
Tradisi berasal dari kata traditium yang dapat berarti segala sesuatu yang diwarisi dari masa lalu. Tradisi merupakan hasil cipta, rasa dan karsa manusia terhadap objek material, kepercayaan, khayalan, kejadian, atau lembaga yang di wariskan dari sesuatu generasi ke generasi. Seperti misalnya adat-istiadat, kesenian dan properti yang digunakan. Sesuatu yang diwariskan tidak berarti harus diterima, dihargai, diasimilasi atau disimpan sampai mati. Bagi para pewaris setiap apa yang mereka warisi tidak dilihat sebagai tradisi. Tradisi yang diterima akan menjadi unsur yang hidup didalam kehidupan para pendukungnya. Ia menjadi bagian dari masa lalu yang di pertahankan sampai sekarang dan mempunyai kedudukan yang sama dengan inovasi- inovasi baru. Tradisi merupakan suatu gambaran sikap dan perilaku manusia yang telah berproses dalam waktu lama dan dilakukan secara turun-temurun dimulai dari nenek moyang. Tradisi yang telah membudaya akan menjadi sumber dalam berakhlak dan berbudi pekerti seseorang. 

Budaya merupakan suatu cara hidup yang berkembang dan dimiliki bersama oleh sebuah kelompok orang dan diwariskan dari generasi ke generasi. Budaya terbentuk dari banyak unsur yang rumit, termasuk sistem agama dan politik, adat istiadat, bahasa, perkakas, pakaian, bangunan, dan karya seni. Bahasa, sebagaimana juga budaya, merupakan bagian tak terpisahkan dari diri manusia sehingga banyak orang cenderung menganggapnya diwariskan secara genetis. Ketika seseorang berusaha berkomunikasi dengan orang-orang yang berada budaya dan menyesuaikan perbedaan-perbedaannya, membuktikan bahwa budaya itu dipelajari. Budaya adalah suatu pola hidup menyeluruh. budaya bersifat kompleks, abstrak, dan luas. Banyak aspek budaya turut menentukan perilaku komunikatif. Unsur-unsur sosial budaya ini tersebar dan meliputi banyak kegiatan sosial manusia.
Yang merupakan menjadi dasar pembeda antara tradisi dan budaya yaitu, jika tradisi tidak dilaksanakan pada suatu waktu, maka akan terjadi suatu wabah bencana di tempat biasa tradisi tersebut dilaksanakan. Jika budaya belum tentu demikian.




Refrensi:
            Isi                    : wikipedia.id
                                    duniabaca.com
            Gambar           : balimediainfo.com
                                    jagoanmuda.xl.co.id

Senin, 19 Oktober 2015

PURA LUHUR MUNCAKSARI



Berada di kawasan selatan lereng Gunung Batukaru, Pura Luhur Muncaksari atau sering juga disebut Pura Luhur Puncaksari berada di Desa Sangketan, Kecamatan Penebel, Kabupaten Tabanan. Berdasarkan namanya, Muncaksari berakar dari dua kata. Yaitu, Muncak dan Sari. Muncak berarti puncak dan Sari dapat diartikan sumber kehidupan. Maka dapat diartikan, Muncaksari berarti puncak sumber kehidupan. Pujawali atau piodalan Pura Luhur Muncaksari jatuh pada Budha Umanis Medangsia dan nyejer selama tiga hari. Pura ini ditemukan sejak zaman kejayaan Kerajaan Tabanan. Namun, tidak ada prasasati yang dapat menguatkan dan mendukung sejarah Pura ini. Cerita mengenai awal dan sejarah Pura Luhur Muncaksari hanya diwarisi secara turun-temurun dari leluhur.


Berdasarkan cerita turun-temurun, diceritakan awal penemuan pura ini berawal dari kegiatan warga di sekitar hutan yang suka mencari rotan. Saat itu, Pan (bapak) Rum Rum, yang merupakan salah satu tokoh warga dari Dusun Puluk-Puluk, Desa Tengkudak, Penebel, berniat membangun rumah. Sesuai kebiasaan, warga mencari rotan untuk bahan tali pengikat kayu. Pan Rum Rum mengajak lima warga lain merambah hutan. Rombongan kecil ini bergerak ke utara. Lalu tiba di hutan Desa Sangketan, mereka dengan mudah mendapatkan rotan atau penyalin. Tiba-tiba keanehan muncul. Saat hendak pulang, hujan lebat disertai petir dan angin mendadak muncul. Kelima warga ini kebingungan dan bergegas pulang. Anehnya, mereka hanya berputar-putar di lokasi. Sadar sudah tersesat. Pan Rum Rum langsung duduk dan berdoa meminta maaf karena dia sadar sudah melakukan kesalahan mengambil rotan tanpa izin. Setelah meminta maaf dengan bahasa seadanya, hujan angin mereda.
Ketika membuka mata, kelima warga ini melihat tumpukan batu yang tertata rapi di bawah pohon besar. Mereka langsung bersujud di tempat ini, lalu mengucapkan sebuah janji. Yang mana isinya, warga akan datang lagi dengan membawa sesaji besar demi menebus kesalahan tersebut. Sekitar enam bulan kemudian, mereka bersama warga lain datang ke pelinggih ini untuk membayar kaul atau janji mereka. Sesaji dihaturkan ke atas pelinggih.  Kemudian, terdengar suara gaib. Pelinggih batu tersebut ternyata bernama Bedugul Gumi, yang berstana Ida Batara Sedahan Agung yang mana berfungsi sebagai pemberi kemakmuran kehidupan bagi warga melalui persawahan dan ladang. Usai hatur sesaji, Pekak (kakek) Rum Rum dinobatkan menjadi pemangku pertama di pelinggih ini. Saat umat kembali menghaturkan sesaji, suara gaib tersebut terdengar kembali. Isinya, pelinggih yang sudah disungsung warga itu dikenal dengan nama Muncaksari atau pusatnya amrta kehidupan. Pemangku yang menyungsung dilanjutkan secara turun-temurun oleh keturunan Pan Rum Rum hingga sekarang. Dikatakan kini telah memasuki generasi keenam.



Refrensi:
Isi                    ; puragunungsalak.com
Gambar           ; wisatabaliasri.wordpress.com
  wayaninbali.wordpress.com 

Kamis, 15 Oktober 2015

PURA LUHUR TAMBAWARAS

Pura yang terletak di Br. Pekandelan, Desa Sangketan, Kecamatan Penebel, Kabupaten Tabanan ini melaksanakan pujawali atau piodalan setiap enam bulan sekali (6 bulan Bali). Tepatnya pada Budha Umanis Prangbakat.
Sejarah awal Pura ini didirikan yaitu sekitar abad ke-12. Dahulu dikatakan bahwa Raja Tabanan yaitu Tjokorda Tabanan sakit keras dan tidak ada obat yang mempan menyembuhkannya. Lalu semuanya memohon petunjuk kepada Ida Sang Hyang Widhi Wasa. Lalu didapatkanlah petunjuk gaib, bahwa akan ada tanda asap sebagai petunjuk. Orang-orang yang telah ditunjuk dan diperintahkan mulai berjalan mencari tanda-tanda asap tersebut di sekitar hutan Gunung Batukaru. Maka ditemukanlah asap mengepul di dalam rumpun bambu dan ternyata asap tersebut keluar dari sebuah kelapa di tanah. Di tempat tersebut mereka memohon obat yang  kemudian dipersembahkan kepada sang raja. Secara ajaib akhirnya raja sembuh seperti sedia kala. Kemudian di tempat tersebut dibangunlah pura yang sekarang ini bernama Tambawaras.
Nama Pura Tambawaras diperkirakan berkaitan dengan sejarah berdirinya pura, asal muasal namanya dari kata Tamba yang berarti obat dan Waras artinya normal seperti sedia kala. Sehingga fungsi tempat suci ini adalah untuk memohon kesehatan lahir dan bathin, dipercaya sebagai gudangnya obat-obatan alam semesta secara niskala.

Refrensi;
            Isi                    : balitoursclub.com
            Gambar           : terorpemburu.blogspot.com

Jumat, 09 Oktober 2015

SIDU


Sidu adalah sendok khas Bali yang terbuat dari daun kelapa. Baik daun kelapa yang muda maupun yang sudah mulai menghijau. Panjangnya tersebut dapat disesuaikan. Cara penggunaannya seperti yang ada pada gambar berikut:



NGELAWANG


Ngelawang berasal dari kata lawang yang berarti pintu. Rumah ke rumah atau bisa saja dari desa ke desa yang biasanya menggunakan Barong Bangkung sebagai media utamanya dan diiringi oleh gamelan bebarongan atau gamelan batel.
Ngelawang ini dipercaya dapat mendatangkan berkah, keselamatan, ketenangan bathin dan kedamaian bagi umat Hindu. Dipercaya bahwa ngelawang dapat menjadi sarana penolak bala (hal-hal yang bersifat negatif). Ngelawang bisa dilakukan sejak pagi hari, hingga gelap dan dinginnya malam hari. Ini berlangsung dengan akrab dan santai tanpa sekat antara pelaku seni dan penonton. Mungkin saja hadir di bale banjar sekitar desa sendiri, di depan rumah penduduk bahkan di tengah jalan yang tentunya pementasan ini hadir di hari-hari antara saat Galungan dan Kuningan.


Refrensi:
            Isi                    ; id.wikipedia.org
            Gambar           ; bali.tribunnews.com

Kamis, 17 September 2015

MAKEPUNG






Makepung merupakan tradisi yang terdapat di Kabupaten Jembrana, Bali. Dalam bahasa Indonesia makepung tersebut berarti berkejar-kejaran. Tradisi ini sudah berkembang sejak tahun 1930-an. Jika di luar Bali tradisi ini mirip dengan Karapan Sapi yang ada di Madura. Dengan sepasang kerbau yang menarik sebuah pedati dan dikendalikan oleh seorang joki, tradisi ini sangat menarik untuk dinikmati. Panjang lintasannya mencapai 1 km.
Dalam pertarungan ini memang dibutuhkan nyali besar, karena resikonya tinggi bagaimana kepiawaian seorang joki melecut hewan pacuannya serta menjaga keseimbangan agar tidak terhempas. Sebelum memulai pertandingan ritualpun diadakan, agar tidak ada gangguan dari hal-hal negatif dan semuanya bisa berjalan lancar. Dalam pacuan, sais tidak menggunakan cambuk biasa, tapi menggunakan cambuk paku dalam melecut kerbaunya, terlihat sedikit ekstrim, namun konon penyembuhan akan lebih cepat menggunakan pecut paku tersebut ketimbang yang biasa, dengan beberapa ramuan tertentu.
Tradisi ini dilakukan dengan melepas 2 peserta dan diadu. Dengan pada bulan Agustus memperebutkan Piala Bupati Jembrana serta bulan Oktober memperebutkan Piala Gubernur. Uniknya penentuan pemenang adalah dengan cara, yang memulai lebih dulu, harus mampu menjaga jarak dengan peserta yang berada dibelakangnya yang dilepas setelahnya sampai 10 meter, jika ternyata peserta yang dibelakangnya bisa mempersempit jarak hingga kurang dari 10 meter, maka peserta dibelakangnya tersebut layak sebagai pemenang.

Refrensi:
            Isi                     ; balitoursclub.com
            Gambar            ; wisatabaliaga.com & sundaribalitour.com